Jejak Sejarah Kota Nganjuk
- account_circle dinganjuk78
- calendar_month Kam, 1 Jan 2026
- visibility 200
- comment 0 komentar

Mengungkap Tuntas Jejak Sejarah Kota Nganjuk: Dari Anjuk Ladang Hingga Kota Angin Modern
Warga Nganjuk, pernahkah kita merenungkan betapa kayanya tanah yang kita pijak ini? Nganjuk, yang kini kita kenal sebagai ‘Kota Angin’, bukanlah sekadar persimpangan jalan atau daerah penghasil bawang merah. Kota ini adalah palimpsest sejarah, lapisan demi lapisan peradaban yang terukir sejak ribuan tahun lalu. Memahami **Sejarah Kota Nganjuk** adalah memahami identitas kita, mengetahui mengapa Nganjuk selalu menjadi daerah strategis, dan menghargai warisan heroik yang mengalir dalam darah kita. Inilah panduan komprehensif mengenai perjalanan panjang Nganjuk, dari prasasti kuno hingga modernisasi saat ini.
Jejak Awal: Menguak Misteri Anjuk Ladang (Mataram Kuno)
Sejarah Nganjuk tidak bisa dipisahkan dari era klasik Jawa Kuno. Fondasi keberadaan Nganjuk ditancapkan kuat pada abad ke-10 Masehi, ketika pusat kekuasaan Mataram Kuno berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Titik krusialnya terletak pada penemuan epigrafis yang menjadi penentu Hari Jadi Nganjuk.
Peran Mpu Sindok dan Makna Prasasti
Tokoh sentral dalam babak awal Nganjuk adalah Sri Maharaja Rakai Hino Pu Sindok Isanawikrama Dharmatunggadewi, atau yang lebih dikenal sebagai Mpu Sindok. Setelah bencana alam (diduga letusan Gunung Merapi) memporakporandakan Mataram di Jawa Tengah, Mpu Sindok mendirikan Wangsa Isyana di Jawa Timur.
Pada masa pemerintahannya, Mpu Sindok memberikan piagam kepada masyarakat di sebuah wilayah yang disebut ‘Anjuk Ladang’. Piagam ini tertulis dalam **Prasasti Anjuk Ladang** yang ditemukan di Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret. Prasasti ini berangka tahun 859 Saka, atau 10 April 937 Masehi. Isi utama prasasti tersebut adalah pengesahan status sima (tanah bebas pajak) bagi penduduk Anjuk Ladang karena jasa mereka membantu Mpu Sindok dalam pertempuran melawan musuh dari Jipang.
Kata *Anjuk Ladang* sendiri memiliki arti ‘Tanah Kemenangan’ atau ‘Medan Perang yang Dimenangkan’. Sebutan inilah yang kemudian diyakini menjadi cikal bakal nama ‘Nganjuk’.
Penetapan Hari Jadi Nganjuk
Berdasarkan momentum penerbitan Prasasti Anjuk Ladang inilah, Pemerintah Kabupaten Nganjuk secara resmi menetapkan:
- **Tanggal Hari Jadi:** 10 April 937 Masehi.
- **Dasar Hukum:** Peraturan Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor 2 Tahun 1993.
Nganjuk merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki jejak historis yang sangat jelas terperinci oleh sumber primer berupa prasasti.
Nganjuk di Masa Pertengahan (Majapahit, Demak, Mataram Islam)
Pada masa perkembangan Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15), Nganjuk—khususnya daerah timur (Kertosono)—menjadi wilayah yang vital. Posisinya yang berada di tepi Sungai Brantas menjadikannya jalur perdagangan dan militer yang penting, menghubungkan pusat Majapahit dengan wilayah barat (Kediri, Madiun). Catatan Nagarakretagama menyebutkan beberapa desa di sekitar Nganjuk yang memiliki peran strategis.
Peran strategis ini terus berlanjut hingga periode Mataram Islam. Nganjuk sering kali menjadi wilayah perebutan kekuasaan antara Mataram dengan kadipaten-kadipaten di Jawa Timur, yang sering kali memberontak atau berusaha melepaskan diri. Nganjuk menjadi pos terdepan Mataram untuk mengamankan wilayah timur.
Berikut adalah beberapa situs purbakala penting yang menegaskan **Sejarah Kota Nganjuk** di era klasik:
- Candi Lor (Lokasi Prasasti Anjuk Ladang)
- Candi Ngetos (Diduga makam raja Hayam Wuruk, meskipun masih diperdebatkan)
- Situs Goa Miring (Peninggalan era prasejarah dan Hindu-Buddha)
- Petirtaan Sumber Jiput
Nganjuk di Era Kolonial Belanda dan Jejak Perlawanan
Ketika kekuasaan berpindah ke tangan Belanda (VOC dan Hindia Belanda), Nganjuk beralih fungsi menjadi pusat agraria dan militer. Sungai Brantas dimanfaatkan maksimal untuk transportasi hasil bumi, khususnya tebu, yang menjadi komoditas utama.
Pembangunan Infrastruktur dan Benteng Van den Bosch
Belanda membangun infrastruktur yang kuat di Nganjuk. Jalur kereta api dibangun melintasi Nganjuk, menghubungkan Madiun dan Kertosono (yang merupakan pusat distribusi penting).
Namun, peninggalan paling ikonik dari masa kolonial adalah **Benteng Van den Bosch** (kini dikenal sebagai Benteng Pendem) di Kecamatan Ngawi. *Catatan: Meskipun secara administrasi Benteng Van den Bosch kini masuk wilayah Ngawi, lokasinya secara historis dan geografis berada dekat dengan perbatasan Nganjuk dan memiliki peran sentral dalam pertahanan Belanda di wilayah Karesidenan Madiun.* [Penulis koreksi: Benteng Pendem yang ikonik di Nganjuk adalah Benteng Pendem Kalimati/Kertosono. Namun, Benteng Van den Bosch Ngawi sering disalahpahami. Mari kita fokus pada jejak kolonial di pusat Nganjuk.]
Di Nganjuk sendiri, fokus kolonial adalah pada pembangunan pabrik gula (seperti PG Lestari) dan sistem irigasi teknis yang mendukung pertanian di dataran rendah Nganjuk. Hal ini memicu perlawanan rakyat yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal yang menentang sistem tanam paksa dan kerja rodi.
Nganjuk dalam Kancah Perjuangan Kemerdekaan (1945–1949)
Posisi Nganjuk yang dikelilingi pegunungan (Wilayah Selatan: Gunung Wilis, Wilayah Utara: Pegunungan Kendeng) menjadikannya lokasi yang sangat strategis bagi para pejuang. Nganjuk menjadi salah satu basis pertahanan gerilya yang sulit ditembus oleh Belanda selama Agresi Militer I dan II.
Pejuang dari Tentara Republik Indonesia (TRI) dan laskar-laskar rakyat memanfaatkan area pegunungan Wilis untuk menyusun strategi, menyimpan logistik, dan melancarkan serangan kejutan. Selain itu, Nganjuk menjadi jalur evakuasi penting bagi para pemimpin sipil dan militer dari Jawa Tengah saat situasi memanas.
Peran Nganjuk dalam Perjuangan:
- **Basis Gerilya:** Wilayah lereng Wilis menjadi tempat persembunyian yang aman.
- **Jalur Logistik:** Menghubungkan Jawa Timur bagian barat dengan pusat-pusat perjuangan di Kediri dan Madiun.
- **Saksi Sejarah:** Terdapat beberapa monumen peringatan perjuangan yang tersebar di beberapa kecamatan, mengingatkan kita pada kerasnya pertempuran demi kemerdekaan.
Nganjuk Pasca Kemerdekaan Hingga Era Kota Angin
Setelah kemerdekaan, Nganjuk mulai menata diri sebagai kabupaten yang mandiri. Pertanian tetap menjadi sektor utama. Nama ‘Kota Angin’ sendiri mulai populer dan dilekatkan pada Nganjuk karena faktor geografis dan klimatologis. Nganjuk memang dikenal memiliki tiupan angin yang cukup kencang, terutama saat musim kemarau, yang diperparah oleh lokasi terbuka di antara dua rangkaian pegunungan.
Secara administratif, Nganjuk mengalami perkembangan signifikan, dengan pusat pemerintahan yang terkonsentrasi di Kota Nganjuk. Pembangunan difokuskan pada penguatan sektor pertanian (irigasi dan bendungan) dan konektivitas jalan.
Linimasa Penting Sejarah Nganjuk
Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah rangkuman linimasa peristiwa penting **Sejarah Kota Nganjuk**:
| Tahun | Peristiwa Penting | Periode | Keterangan | ||
| 937 M | Penerbitan Prasasti Anjuk Ladang | Mataram Kuno | Penetapan status Sima, cikal bakal nama Nganjuk. | ||
| Abad 15 | Peran sebagai penyangga Majapahit | Klasik Akhir | Jalur perdagangan dan pertahanan penting di Brantas. | ||
| Abad 18 | Masuknya pengaruh VOC/Belanda | Kolonial | Pembangunan pabrik gula dan sistem irigasi. | ||
| 1945-1949 | Basis pertahanan gerilya | Kemerdekaan | Lokasi strategis di lereng Gunung Wilis. | ||
| 1993 | Penetapan Hari Jadi Kota Nganjuk | Modern | Berdasarkan tanggal 10 April 937 M. | ||
| Era 2000-an | Julukan ‘Kota Angin’ semakin populer | Kontemporer | Fokus pada pengembangan infrastruktur dan pertanian. |
**Mengapa Sejarah Ini Penting Bagi Warga Nganjuk?**
Sejarah adalah fondasi. Dengan mengetahui bahwa Nganjuk adalah ‘Tanah Kemenangan’ (Anjuk Ladang) yang pernah menjadi hadiah dari seorang raja besar, kita membawa semangat kebanggaan yang sama. Semangat ini harus kita terjemahkan dalam pembangunan Nganjuk hari ini, memastikan bahwa warisan dari Mpu Sindok hingga para pejuang kemerdekaan tetap hidup dalam visi ‘Kota Angin’ yang maju.
***
Nganjuk adalah harta karun sejarah yang menunggu untuk terus digali dan diceritakan. Mari kita jaga situs-situs bersejarah ini, karena merekalah saksi bisu kebesaran masa lalu kita. Pantau terus info Nganjuk di dinganjuk.com


- Penulis: dinganjuk78

Saat ini belum ada komentar